Monday 2 December 2019

Bisnis Yang Autopilot atau Yang Berasa Autopilot

Para pebisnis belakangan ini disodorkan tentang sebuah mimpi yang indah yaitu bisnis yang bisa autopilot. Bisnis yang berjalan tanpa campur tangan pebisnis itu dari waktu ke waktu. Mimpi yang dibangun oleh para business coach.
Sebelum saya lanjutkan saya mau katakan bahwa seorang pilot sebelum bisa menekan tombol auto pilot, ada serangkaian persiapan yang dia kerjakan. Baru kemudian tombol auto pilot boleh ditekan, itu pun setelah memenuhi ketinggian tertentu. Artinya seorang pebisnis yang ingin bisnisnya berjalan secara auto pilot terlebih dahulu harus mengerjakan serangkaian pekerjaan sebelum bisa meninggalkan bisnisnya.
Kedua, meskipun seorang pilot telah menekan tombol auto pilot, apakah dia akan meninggalkan cockpit? Jawabannya adalah: “Tidak.” Dia akan tetap duduk di cockpit bersama co-pilot untuk memastikan penerbangan berlangsung baik dan selamat sampai tujuan. Itu juga berarti pebisnis yang ingin bisnisnya selamat sampai tujuan tidak berarti meninggalkan bisnisnya. Hanya saja dengan auto pilot bisnis tidak perlu ditungguin 24 jam karena bisa berjalan tanpa terus menerus mengendalikannya secara manual.
Kesimpulannya, mau bisnis bisa auto pilot maka ada serangkaian pekerjaan yang harus dilakukan oleh pebisnis mulai dengan membereskan segala sesuatu yang bersifat struktural, mencari orang yang tepat dan kompeten untuk mengisi setiap fungsi di dalam organisasi. Memastikan semua sistem dan prosedur yang benar tersedia. Menciptakan mekanisme kontrol di dalam organisasi agar check and balance terjadi.
Dalam karir saya sebagai konsultan bisnis retail saya seringkali melihat pebisnis mengira bahwa auto pilot bisa berjalan seperti membalik telapak tangan. Cukup membuat struktur organisasi, meletakkan orang yang ada ke setiap posisi yang kira-kira kosong dan kemudian berharap semuanya berjalan dengan sendirinya. Maka bisa bisa dipastikan, perusahaan seolah-olah berjalan auto pilot. Dari luar akan terlihat demikian, indah dilihat namun berantakan di dalam. Bukan bisnis yang auto pilot melainkan “merasa” sudah auto pilot. Nyatanya belum sama sekali.
Berikutnya selama pebisnis percaya bahwa mereka masih menjalankan secara auto pilot maka itu berarti peran pilot (pebisnis) masih sangat besar. Pilot tidak meninggalkan cockpit melainkan tetap di situ memastikan perjalanannya sesuai dengan rencana. Ingat pesawat tidak hanya diterbangkan tetapi harus didaratkan dengan selamat oleh sang pilot.
Jika Anda tidak mau menungguin bisnis Anda, jadilah pemilik bisnis bukan yang menjalankan bisnis. Apa bedanya? Nantikan tulisan saya berikutnya.


Foto: dari rbth.com

No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.