Monday, 18 November 2019

Dulu Berkibar, Sekarang Nyaris Bubar


Seorang klien saya, pemilik retail gadget terbesar di Buleleng, Bali, bercerita tentang pengalaman masa kecilnya. Dulu, kalau belanja, dia sangat suka diajak ke sebuah supermarket yang memiliki halaman luas dan tokonya pun sangat keren di masa itu. Dia kaget ketika saya katakan saya baru saja dari supermarket TD (inisial dari nama supermarket tadi).
Saya mencatat beberapa hal tentang supermarket ini. Hanya dari satu titik saja, tetapi sangat menggambarkan betapa supermarket ini tidak mengalami kemajuan. Seolah berhenti di sebuah titik dan tidak pernah bergerak. 

Saya hanya membeli 2 buah barang saja yaitu 2 minuman dingin yang berada di lemari pendingin di belakang kasir. Ketika saya membayar, petugas kasir tidak menyapa tetapi langsung melayani. Singkat cerita barang di-scan dan ada yang diinput ke dalam mesin kasir. Total belanja Rp 11.450. Saya memberikan uang Rp 20.000. Kasir mengembalikan hanya Rp 8.500 tanpa minta maaf telah mengambil tambahan keuntungan sebesar Rp 50 lagi. Apakah ada masalah lain? Saya ceritakan berikutnya. Pada struk tertulis di paling bawah sebuah komponen biaya yang tidak pernah saya beli yaitu jasa pendingin sebesar Rp 250. Karena saya membeli dua berarti 2 kali Rp 250. Jadi minuman berpendingin memiliki harga tambahan. Hal ini bukan barang baru sebenarnya, metode ini jaman dulu banget ketika lemari pendingin di toko modern masih barang langka. Tetapi hari “gini” masih diterapkan? Terasa jadul banget.
Masalah kedua, yang bisa dilihat pada struk dari kasir adalah tulisan “Barang yang sudah dibeli tidak bisa ditukar atau dikembalikan”, juga kalimat tahun jaman baheula banget alias ketinggalan jaman.

Bagaimana kondisi supermarket ini sekarang? Sangat jauh dari ideal. Kondisi tokonya horor banget. Klien saya yang punya memori dengan tempat ini bertekad ingin melihat toko tersebut. Toko masa lalunya. Saya katakan, silahkan, setelah itu Anda pasti tidak termotivasi untuk tumbuh karena mengira masa depan bisnis retail suram. Benar saja, ketika dia keluar dari toko tersebut, dia sepakat bahwa toko itu menjadi toko yang “horor” banget. Penerangan yang kurang, panas, barang acak-acakan, jorok, dan lain-lain kekurangan jika dibandingkan dengan para pemain baru yang sadar akan pentingnya menjadi toko yang bukan saja menyediakan barang tetapi juga keseluruhan suasana belanja yang menyenangkan.
Maka kita tidak perlu heran toko yang tadinya berkibar sebagai toko destinasi (sasaran belanja warga) sekarang tinggal kenangan dan terlihat hampir “bubar”.
Tidak sedikit toko-toko retail yang baru buka belakangan juga memiliki kelakuan yang serupa. Bentuknya saja modern tetapi manajemen nyaris mirip dengan toko yang saya ceritakan barusan. Silahkan introspeksi. Siapkah Anda bersaing di era di mana masyarakat punya banyak pilihan.


Artikel ini sudah pernah di posting di page: https://www.facebook.com/Guswai/

No comments:

Post a Comment