Wednesday, 20 November 2019

Business secara Trial and Error


Seorang teman di media sosial Facebook secara tiba-tiba mengirimkan pesan, bertanya-tanya tentang bisnis retail yang hendak dijalankannya. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terasa ada kejanggalan. Di dalamnya terkandung akan ada resiko besar yang harus dia jalankan. Setelah memberikan beberapa masukan dia lalu mengoreksi sendiri apa yang semula disampaikannya, sesuai masukan dari saya. Kemudian saya tanyakan apakah yang bersangkutan memiliki latar belakang ilmu retail, setidaknya pernah bekerja atau pernah belajar. Ternyata yang bersangkutan belum pernah sama sekali bersentuhan dengan dunia retail.

Selaku konsultan dan trainer dari banyak perusahaan retail saya langsung mengingatkan beliau supaya belajar mendalami bisnis retail. Saya anjurkan beliau membaca buku-buku retail, di antaranya buku-buku dalam Retail Excellence Series, ada 9 buku seri bisnis retail yang sudah saya tulis. Saya anjurkan juga mengikuti workshop-workshop publik yang ada. Setelah itu tidak ada tanggapan lagi. Saya tidak paham maknanya, hanya beliau yang tahu. Banyak kasus serupa di mana pengusaha yang mengira sukses bisa ditempuh dengan cara trial and error.

Menjalankan bisnis secara trial and error bisa saja dengan resiko waktu yang dibutuhkan untuk menemukan cara yang tepat akan panjang dan lama.

Total karir saya di industri retail sudah lebih dari 31 tahun. Dalam 16 tahun karir saya sebagai konsultan dan trainer, saya sudah banyak bertemu dengan pebisnis retail yang awalnya enggan untuk belajar. Mengapa? Setelah belasan tahun mengelola bisnis rata-rata pebisnis yang tidak memiliki semangat belajar terus menerus merasa sudah paham sekali cara-cara menjalankan bisnisnya. Saya pernah bertemu seseorang peritel yang mengalami kesulitan. Bisnis berjalannya mengalami performa buruk. Dari 5 tokonya 4 mengalami penurunan omzet dibanding tahun sebelumnya. Itu juga yang ternyata mendorong dia untuk mengikuti retail public workshop saya untuk pertama kalinya, waktu itu yang di Bali tahun 2018. Setelah workshop itu kami berbincang-bincang. Kemudian dari workshop yang pertama dia ikuti ini berlanjut ke workshop selanjutnya. Setelah itu baru dia mengatakan kepada saya, “Setelah menjalankan bisnis belasan tahun dan tidak pernah mengasah diri, baru saya sadari ternyata ilmu saya belum ada apa-apanya. Setelah menjalankan bisnis belasan tahun saya pikir saya paham lah seluk beluk bisnis retail saya, nyatanya banyak hal yang saya lakukan secara trial and error, coba-coba yang kemudian salah, lalu coba lagi cara lain, demikian terus menerus.”
Saya senang sekali menemukan kesadaran ini. Inilah yang dibutuhkan dari seorang pebisnis. Kesadaran bahwa dirinya masih harus belajar setiap waktu. Kesadaran untuk mengasah kapaknya dari waktu ke waktu agar tetap tajam dan mampu menebang pohon secara efektif. Demikian juga dalam bisnis, seorang pengusaha hendaknya menimba ilmu untuk memertajam kompetensinya dalam mengelola bisnis.

Apa yang salah dalam menjalankan bisnis secara trial and error? Bukankah sebagian besar pengusaha melakukan cara ini? Ada pepatah, saya gagal dan gagal lagi karena itu saya berhasil. Betul sekali, makanya prosesnya panjang dan lama.

Banyak kisah-kisah seperti yang saya tulis di atas. Pola pikir yang salah, attitudes yang tidak tepat menghentikan pebisnis tadi untuk terus belajar. Sikap merasa tahu banyak itulah yang menghentikan seseorang. Jika keadaan memburuk bagaimana sikap pebisnis yang enggan belajar? Dia akan menyalahkan siapapun sebagai penyebabnya kecuali dirinya sendiri. Pebisnis dengan pilihan sikap mental yang salah akan melihat faktor luar sebagai penyebab kegagalannya dan tidak mampu introspeksi. Jika ini terjadi maka tidak akan ada perbaikan. Yang ada hanyalah menyalahkan keadaan dan tidak melakukan apa-apa.

Jika pebisnis rela berinvestasi untuk membangun bisnisnya, mengapa dia tidak rela berinvestasi pada dirinya sendiri dengan belajar terus menerus, menarik dirinya untuk beberapa saat, mengasah diri seperti mengasah kapaknya sehingga senantiasa tajam.

Menjalankan bisnis secara trial and error bisa saja dengan resiko waktu yang dibutuhkan untuk menemukan cara yang tepat akan panjang dan lama. Pilihan di tangan pebisnis. Waktu berjalan, kompetitor berdatangan, apakah Anda punya cukup waktu untuk coba-coba yang belum tentu benar. Belajar dari orang yang berilmu dan berpengalaman akan memperpendek jarak dan waktu untuk mencapai tujuan Anda. Jika pebisnis rela berinvestasi untuk membangun bisnisnya, mengapa dia tidak rela berinvestasi pada dirinya sendiri dengan belajar terus menerus, menarik dirinya untuk beberapa saat mengasah diri seperti mengasah kapaknya sehingga senantiasa tajam.

#trialanderror #retailbusiness #Growand ProsperRetailConsultant #retailexellenceseriesworkshops #retailexcellenceseriesbooks #konsultanbisnisretail

Foto: https://www.123rf.com/photo_104585059_trial-and-error-green-stripes-symbols.html

No comments:

Post a Comment